Cinta berlari-lari melewati batang-batang pohon yang menjulang tinggi. Bernaung di bawah kerimbunan daun-daun yang lebar. Titik-titik air jatuh mengusap wajahnya yang berseri. Matanya berbinar menyambut hari yang putih bercahaya. Sebuah pelukan hangat mengusir dingin yang berhembus di kulitnya.
Satu kecupan lembut jatuh di atas dahinya yang basah oleh air hujan. Dia tersenyum manja sambil memiringkan kepalanya. Hujan semakin deras, butiran-butiran air sebesar jagung berdebum di atas plastik hitam yang dijadikan naungan. Suasana alam yang kehijauan meneduhkan dua jiwa yang tersenyum. Hujan masih turun.
Bau tanah basah bercampur dengan kesejukan alam berbaur mengelilingi tempat berpijak. Dua kepala saling bersandar lalu tertawa penuh warna sambil memandang langit. Butiran-butiran air hujan yang terlihat seperti titik dari atas langit berubah menjadi titik-titik air yang besar menepuk daun-daun, menepuk wajah yang menengadah.
Dalam hujan, cinta tulus merebak hingga masa depan. Tangan saling menggenggam sementara tangan lainnya menahan plastik hitam di atas kepala. Dua pasang mata menatap dalam sambil sesekali membuang pandangan jauh ke depan. Tetesan air mata tersembunyi dalam tetesan air hujan yang masih menempel di wajah. Dalam hujan, cinta tak kan pernah mati. Cinta selalu indah meski harus melewati berbagai cobaan. Dalam hujan, kenangan cinta ditulis di dalam buku waktu. Suatu saat nanti, dalam hujan, cinta tulus itu sudah teruji.

0 komentar:
Posting Komentar