Aya
----
Aku mencintainya. Aku menginginkannya. Tapi apakah dia menginginkaku? Entahlah.
Aku hanyalah seorang Soraya. Gadis biasa yang sedang jatuh cinta. sedangkan dia adalah Silwan.Pria yang ketampanannya mampu menyilaukan setiap mata yang memandangnya.
Silwan
----
Aya mencintaiku. Aku tahu. Aku merasakannya. Tapi apa dayaku. Aku tidak bisa menyatukan rasaku dengan rasanya. Hanya untuk satu orang bisa kuberikan rasa terdalamku.
Pernikahan kami akan segera dilangsungkan. Aku dan Aya. Aku yang memilih Aya untuk menjadi istriku. Tradisi Arab mengharuskan aku menikahi seorang wanita dari keturunan Arab juga. Tapi bukan hanya itu saja alasanku. Hanya Aya yang menerima keadaanku. Hanya Aya yang mengerti kekuranganku.
Lukman
----
Kabar gembira dari Pak Dito untuk mempromosikanku dari co-pilot menjadi pilot tidak bisa menyenangkanku. Hari ini adalah hari pernikahannya. Hari inilah aku akan kehilangannya.
Aku benar-benar hancur hari ini. Inginku menghancurkan semua yang ada di sekelilingku untuk menemani hatiku. Pramugari-pramugari cantik yang memberiku selamat tidak bisa menghiburku dengan keelokan tubuh mereka. Aku hanya ingin dia. Hanya keelokan tubuhnya yang bisa membiusku.
Frustasi yang menguasaiku membuatku menghancurkan ipodku hanya karena dia memutar "Friday I'm in love". Hari ini Jumat, tapi aku tidak sedang jatuh cinta, aku justru sedang patah hati karena janji yang akan diucapkan dalam akad nikah mereka siang ini akan menjadikannya milik orang lain.
Aya
----
Seharusnya aku bahagia karena bisa menjadi istri Silwan. Ini impianku. Ini dongeng masa kecilku yang selalu kulewati bersama Silwan. Tapi hatiku perih karena alasan dia memilihku karena untuk menyelamatkan dirinya. Untuk menutupi kebenaran dalam dirinya. Hanya karena aku seorang wanita keturunan Arab. Hanya karena aku satu-satunya wanita yang mengerti keadaannya.
Akal sehatku menolak untuk menjadi malaikat penolongnya. Tapi akal sehat selalu terhempas oleh cinta, terutama cinta seperti milikku. Aku terlalu mencintainya hingga aku sanggup mengorbankan diriku untuk menjadi bidadari penyelamatnya.
Dalam pesta pernikahan kami, semua mata memandang iri kepadaku. Iri kepada gaun hijau lembut yang dibeli olehnya khusus untuk resepsi pernikahan kami. Iri pada kerlip menyerupai mahkota pada jilbab yang menutup sempurna rambutku. Iri pada untaian melati sebagai pelengkap mahkotaku. Iri pada keberadaanku yang bersanding dengannya. Mereka tidak tahu justru akulah yang iri kepada mereka karena hanya menjadi penonton dalam kisah hidupku yang menyedihkan.
Lukman
----
Dengan hati yang sakit menyayat akupun menyaksikannya bersanding di pelaminan. Aku tertarik dalam gravitasi kepedihan. Bagaikan planet yang terpaksa berotasi mengelilingi matahari kehidupan.
Dia begitu indah. Warna hijau membuat kulit mulusnya bersinar. Kerlip di baju pengantinnya membuat mata jernihnya kemilau. Keindahan yang akan membuat ombak berhenti bergulung.
Perasaankupun semakin terpuruk. Merasakan setiap orang tertawa untuk kekalahanku, walaupun tidak ada satupun mengetahui apa hubunganku dengan mempelai. Seolah karena aku bersedih, duniapun ikut bersedih bersamaku.
Aku tidak sanggup lagi. Aku hanya menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. Aku terlambat. Seharusnya aku datang kemarin, sebelum mereka mengucapkan janji sehidup semati.
Silwan
----
Aku tahu Aya menginginkan Lukman untuk menolongnya. Aku tahu walaupun Aya mencintaiku, tapi dia nyaris tidak bisa berdiri mengorbankan dirinya untukku. Aku tahu kemarin lusa Aya putus asa menghubungi Lukman untuk mengungkapkan isi hatinya kepada seluruh keluarga kami. Aku tahu. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya.
Aku tidak seberani Aya yang sekuat tenaga berusaha membuatku bahagia. Berusaha membuatku mengejar cintaku.
Aku hanya bisa menatap Lukman dalam ketidakberdayaanku karena akupun berharap hal yang sama seperti Aya. Aku berharap Lukman akan menolongku. Aku berharap Lukman akan bersikap jantan dan mengakui isi hatinya. Tapi Lukman hanya diam. Aku bisa merasakan bahwa diamnya karena sakit hatinya membuat kelu.
Semua sudah terlambat. Yang bisa kulakukan hanya berusaha terlihat bahagia. Berusaha tetap kuat demi Aya. Berjuang untuk Aya. Wanita yang telah mengorbankan hatinya untukku. Wanita yang berjiwa besar melakukan apapun untuk membahagiakanku bahkan melakukan cara terakhir yang dia tahu dengan meminta bantuan pada orang yang aku cintai dan juga mencintaiku. Wanita yang memiliki hati yang mulia untuk laki-laki yang mencintai laki-laki lain.
Drama Tiga Hati
Label: Untaian Cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar